Halaman

Sabtu, 05 April 2014

Perjalanan Rasa



Hari ini aku pergi ke Garut, dan ini merupakan kunjunganku ke Garut untuk ketiga kalinya. Bukan dalam perihal wisata ataupun berkunjung ke rumah saudara, melainkan untuk melakukan takziyah ke salah satu teman yang baru saja ditinggalkan ayahnya.

Perjalanan dimulai dari berkumpulnya kita di depan salah satu supermarket dekat kampus. Aku dan teman-teman yang berjumlah 13 orang berangkat dengan menggunakan dua mobil sewaan. Di mobil pertama ada aku, Ibeb, Byadi, Luthfi, Nida, Dessy, dan Haidar sebagai driver, dan di mobil kedua ada Ridwan, Reza, Eva, Dena, Reni, Laras, dan Syauqi sebagai driver. Kita berangkat sekitar pukul 12 siang.

Jujur, aku menikmati perjalanan tersebut. Aku memang suka melakukan perjalanan, terlebih lagi ke tempat yang akhir-akhir ini ingin aku kunjungi, yakni Darajat. Aku pernah bilang ke Abah bahwa aku ingin main ke Darajat, Allah memang mewujudkannya hari ini namun aku merasa sesal dengan alasan yang mengharuskanku pergi kesana.

Di tengah perjalanan kita istirahat dan shalat di salah satu mesjid di Cicalengka. Singkat cerita sampailah kita di rumah Irpan Nugraha (Abah) dengan selamat walaupun didukung dengan perjalanan yang agak menguras hati karena Haidar yang belum terlalu profesional dalam mengemudikan mobilnya.

Disana kita disambut baik oleh keluarga Abah. Saat kita datang ternyata mereka sedang mempersiapkan tahlilan. Kata Abah sih ya dia kaget melihat kita datang ke rumahnya karena kita memang tidak memberi tahu dia terlebih dahulu. 

Setelah itu kita berdoa, dan berbincang dengan dibumbui tawa karena katanya tujuan kita datang kesana adalah untuk menghibur Abah. Namun, sungguh, walaupun aku bukanlah pihak yang ditinggalkan, aku merasakan aroma kehilangan di setiap sudut rumah itu. Aku melihat rona kesedihan dibalik senyum yang berusaha mereka sunggingkan. Begitu pula dengan Abah, walaupun dia berusaha tertawa namun matanya tak bisa berbohong, ada sejuta kesedihan yang ia tumpahkan disana.

Dan aku tahu bahwa kehilangan seseorang yang sangat kita cintai serta mengetahui bahwa ia tak akan pernah kembali merupakan hal yang sangat menyesakkan. Bahkan saking sakitnya, banyak orang yang ingin meninggal dunia duluan daripada orang-orang yang mereka sayang demi menghindari rasa kehilangan itu.

Bukan cengeng atau apapun, namun aku sungguh tak dapat menahan air mata, apalagi ketika melihat tangisan Abah yang seolah mengungkapkan segala sesaknya. Ruangan pun seketika menjadi kelabu dan dipenuhi rasa haru. Satu per satu teman menguatkan dan memeluk Abah.

Setelah cukup lama berbincang, kita pamit pulang karena takut terlalu malam sampai Bandung. Dan di perjalanan pulang, kita disuguhkan pemandangan yang sangat indah oleh Darajat. Kabut yang menyelimuti, dataran yang hijau, dan angin yang sejuk (cenderung dingin) membuat aku tersenyum.
Lalu kita pergi ke rumah Laras yang tepatnya berada di pusat Kota Garut. Kesan pertama saat masuk rumah Laras adalah nyaman. Bukan karena rumahnya (memang sih rumahnya bagus dan nyaman banget) tapi lebih karena suasana dan penyambutan keluarganya. Disana ada Ibu nya Laras yang menyambut kita dengan hangat dan penuh kasih sayang. Di dinding kulihat ada foto-foto keluarga, utuh. Ruang tamu, ruang televisi, dapur, kamar mandi, musholla, balkon, dan hal lainnya yang menunjukkan bahwa mereka adalah keluarga normal yang bahagia.

Hal yang tiba-tiba terlintas di pikiranku adalah keluargaku. Dan sungguh pikiran tersebut menyayat hati. Entah mengapa. Aku rasa aku merindukannya. Oh sepertinya bukan, menginginkan tepatnya. Karena kau tak akan merindukan apa yang tak pernah kau miliki, bukan? Begitu pula denganku. Aku tak pernah memilikinya, maka dari itu aku menginginkannya, bukan merindukannya.

Di rumah Laras kita makan makanan yang sudah disiapkan Ibu nya Laras. Setelah itu sekitar pukul 20:00 kita pamit untuk kembali ke Bandung.

Laju ban mobil, suara tawa teman-teman, serta terpaan angin malam itu menemaniku melanjutkan perjalanan rasa. Sampailah kita di Bandung sekitar pukul 22:00. Tapi aku sampai di kosan sekitar pukul 23:00 karena kita minum susu murni dulu di Dipati Ukur.

Kamis, 03 April 2014. Aku belajar tentang kehilangan sekaligus keutuhan. Tentang bagaimana seharusnya kita menjaga yang masih utuh, dan mengikhlaskan yang telah hilang. Hari itu juga aku merasa takut kehilangan sekaligus menginginkan keutuhan. 

Kamis, 03 April 2014, aku melakukan perjalan rasa yang tak akan mudah aku lupakan.


Geby Bayuningtyas
Bandung, 03 April 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar