Hari
ini aku pergi ke Garut, dan ini merupakan kunjunganku ke Garut untuk ketiga kalinya. Bukan dalam perihal wisata ataupun
berkunjung ke rumah saudara, melainkan untuk melakukan takziyah ke salah satu
teman yang baru saja ditinggalkan ayahnya.
Perjalanan
dimulai dari berkumpulnya kita di depan salah satu supermarket dekat kampus. Aku
dan teman-teman yang berjumlah 13 orang berangkat dengan menggunakan dua mobil
sewaan. Di mobil pertama ada aku, Ibeb, Byadi, Luthfi, Nida, Dessy, dan Haidar
sebagai driver, dan di mobil kedua
ada Ridwan, Reza, Eva, Dena, Reni, Laras, dan Syauqi sebagai driver. Kita
berangkat sekitar pukul 12 siang.
Jujur,
aku menikmati perjalanan tersebut. Aku memang suka melakukan perjalanan,
terlebih lagi ke tempat yang akhir-akhir ini ingin aku kunjungi, yakni Darajat.
Aku pernah bilang ke Abah bahwa aku ingin main ke Darajat, Allah memang
mewujudkannya hari ini namun aku merasa sesal dengan alasan yang mengharuskanku
pergi kesana.
Di
tengah perjalanan kita istirahat dan shalat di salah satu mesjid di Cicalengka.
Singkat cerita sampailah kita di rumah Irpan Nugraha (Abah) dengan selamat
walaupun didukung dengan perjalanan yang agak menguras hati karena Haidar yang
belum terlalu profesional dalam mengemudikan mobilnya.
Disana
kita disambut baik oleh keluarga Abah. Saat kita datang ternyata mereka sedang
mempersiapkan tahlilan. Kata Abah sih ya dia kaget melihat kita datang ke
rumahnya karena kita memang tidak memberi tahu dia terlebih dahulu.
Setelah
itu kita berdoa, dan berbincang dengan dibumbui tawa karena katanya tujuan kita
datang kesana adalah untuk menghibur Abah. Namun, sungguh, walaupun aku
bukanlah pihak yang ditinggalkan, aku merasakan aroma kehilangan di setiap
sudut rumah itu. Aku melihat rona kesedihan dibalik senyum yang berusaha mereka
sunggingkan. Begitu pula dengan Abah, walaupun dia berusaha tertawa namun
matanya tak bisa berbohong, ada sejuta kesedihan yang ia tumpahkan disana.
Dan aku
tahu bahwa kehilangan seseorang yang sangat kita cintai serta mengetahui bahwa
ia tak akan pernah kembali merupakan hal yang sangat menyesakkan. Bahkan saking
sakitnya, banyak orang yang ingin meninggal dunia duluan daripada orang-orang
yang mereka sayang demi menghindari rasa kehilangan itu.
Bukan
cengeng atau apapun, namun aku sungguh tak dapat menahan air mata, apalagi
ketika melihat tangisan Abah yang seolah mengungkapkan segala sesaknya. Ruangan
pun seketika menjadi kelabu dan dipenuhi rasa haru. Satu per satu teman
menguatkan dan memeluk Abah.
Setelah
cukup lama berbincang, kita pamit pulang karena takut terlalu malam sampai
Bandung. Dan di perjalanan pulang, kita disuguhkan pemandangan yang sangat
indah oleh Darajat. Kabut yang menyelimuti, dataran yang hijau, dan angin yang
sejuk (cenderung dingin) membuat aku tersenyum.
Lalu
kita pergi ke rumah Laras yang tepatnya berada di pusat Kota Garut. Kesan
pertama saat masuk rumah Laras adalah nyaman. Bukan karena rumahnya (memang sih
rumahnya bagus dan nyaman banget) tapi lebih karena suasana dan penyambutan
keluarganya. Disana ada Ibu nya Laras yang menyambut kita dengan hangat dan
penuh kasih sayang. Di dinding kulihat ada foto-foto keluarga, utuh. Ruang
tamu, ruang televisi, dapur, kamar mandi, musholla, balkon, dan hal lainnya
yang menunjukkan bahwa mereka adalah keluarga normal yang bahagia.
Hal yang tiba-tiba
terlintas di pikiranku adalah keluargaku. Dan sungguh pikiran tersebut menyayat
hati. Entah mengapa. Aku rasa aku merindukannya. Oh sepertinya bukan,
menginginkan tepatnya. Karena kau tak akan merindukan apa yang tak pernah kau
miliki, bukan? Begitu pula denganku. Aku tak pernah memilikinya, maka dari itu
aku menginginkannya, bukan merindukannya.
Di
rumah Laras kita makan makanan yang sudah disiapkan Ibu nya Laras. Setelah itu
sekitar pukul 20:00 kita pamit untuk kembali ke Bandung.
Laju
ban mobil, suara tawa teman-teman, serta terpaan angin malam itu menemaniku
melanjutkan perjalanan rasa. Sampailah kita di Bandung sekitar pukul 22:00.
Tapi aku sampai di kosan sekitar pukul 23:00 karena kita minum susu murni dulu
di Dipati Ukur.
Kamis,
03 April 2014. Aku belajar tentang kehilangan sekaligus keutuhan. Tentang
bagaimana seharusnya kita menjaga yang masih utuh, dan mengikhlaskan yang telah
hilang. Hari itu juga aku merasa takut kehilangan sekaligus menginginkan
keutuhan.
Kamis, 03
April 2014, aku melakukan perjalan rasa yang tak akan mudah aku lupakan.
Geby Bayuningtyas
Bandung, 03 April 2014