Halaman

Kamis, 10 April 2014

Perasa

From Tumblr

Pernah dalam satu hari merasa sedih sekali?
Saat merasa rendah dan tak berarti
Saat orang-orang terdekat seolah menjauhi
Saat merasa hampa dan tak tahu apa yang terjadi
Yang kau inginkan hanyalah menangisi setiap inci kehidupan ini

Aku merasakannya hari ini.
Dibuat kaget oleh pernyataan seorang teman yang sebenarnya aku penasaran akan hal itu. Kesal dan sesal pun berkecambuk. Dan lagi-lagi aku merasa tak mempunyai harga diri. Ternyata benar kata mereka. Lebih baik tidak mengetahui, karena mengetahui segalanya sama saja dengan menggores luka di hati sendiri.

Over thinking membuat semua hal terlihat tak berjalan semestinya. Aku tahu itu.
Membuat diri jadi lebih perasa. Orang lain melakukan hal yang wajar pun terlihat seolah tak wajar.
Semua hal membuat merasa "iya-da-aku-mah-apa".

Kesal, sesal, dan hampa menyesakkan dada sehingga tak ada lagi ruang tersisa. Dan yang bisa aku lakukan hanyalah berurai air mata. Aku tak berdaya.
Saat itulah semua sudut kehidupan seolah tak bisa aku menangkan. Dan aku bukanlah apa-apa.

Satu lagu untuk hari ini, untuk orang yang sering menjadi korban sifat 'perasa'ku.

Dia bilang
Kau harus bisa seperti aku
Yang sudah biarlah sudah

Mudah saja bagimu
Mudah saja untukmu
Andai saja cintamu seperti cintaku
Mudah Saja - Sheila on 7




Geby Bayuningtyas,
Perasa yang mudah bahagia dan mudah sedih juga

 Ditulis dengan kuping yang sakit gara-gara volume headset yang full

Sabtu, 05 April 2014

Perjalanan Rasa



Hari ini aku pergi ke Garut, dan ini merupakan kunjunganku ke Garut untuk ketiga kalinya. Bukan dalam perihal wisata ataupun berkunjung ke rumah saudara, melainkan untuk melakukan takziyah ke salah satu teman yang baru saja ditinggalkan ayahnya.

Perjalanan dimulai dari berkumpulnya kita di depan salah satu supermarket dekat kampus. Aku dan teman-teman yang berjumlah 13 orang berangkat dengan menggunakan dua mobil sewaan. Di mobil pertama ada aku, Ibeb, Byadi, Luthfi, Nida, Dessy, dan Haidar sebagai driver, dan di mobil kedua ada Ridwan, Reza, Eva, Dena, Reni, Laras, dan Syauqi sebagai driver. Kita berangkat sekitar pukul 12 siang.

Jujur, aku menikmati perjalanan tersebut. Aku memang suka melakukan perjalanan, terlebih lagi ke tempat yang akhir-akhir ini ingin aku kunjungi, yakni Darajat. Aku pernah bilang ke Abah bahwa aku ingin main ke Darajat, Allah memang mewujudkannya hari ini namun aku merasa sesal dengan alasan yang mengharuskanku pergi kesana.

Di tengah perjalanan kita istirahat dan shalat di salah satu mesjid di Cicalengka. Singkat cerita sampailah kita di rumah Irpan Nugraha (Abah) dengan selamat walaupun didukung dengan perjalanan yang agak menguras hati karena Haidar yang belum terlalu profesional dalam mengemudikan mobilnya.

Disana kita disambut baik oleh keluarga Abah. Saat kita datang ternyata mereka sedang mempersiapkan tahlilan. Kata Abah sih ya dia kaget melihat kita datang ke rumahnya karena kita memang tidak memberi tahu dia terlebih dahulu. 

Setelah itu kita berdoa, dan berbincang dengan dibumbui tawa karena katanya tujuan kita datang kesana adalah untuk menghibur Abah. Namun, sungguh, walaupun aku bukanlah pihak yang ditinggalkan, aku merasakan aroma kehilangan di setiap sudut rumah itu. Aku melihat rona kesedihan dibalik senyum yang berusaha mereka sunggingkan. Begitu pula dengan Abah, walaupun dia berusaha tertawa namun matanya tak bisa berbohong, ada sejuta kesedihan yang ia tumpahkan disana.

Dan aku tahu bahwa kehilangan seseorang yang sangat kita cintai serta mengetahui bahwa ia tak akan pernah kembali merupakan hal yang sangat menyesakkan. Bahkan saking sakitnya, banyak orang yang ingin meninggal dunia duluan daripada orang-orang yang mereka sayang demi menghindari rasa kehilangan itu.

Bukan cengeng atau apapun, namun aku sungguh tak dapat menahan air mata, apalagi ketika melihat tangisan Abah yang seolah mengungkapkan segala sesaknya. Ruangan pun seketika menjadi kelabu dan dipenuhi rasa haru. Satu per satu teman menguatkan dan memeluk Abah.

Setelah cukup lama berbincang, kita pamit pulang karena takut terlalu malam sampai Bandung. Dan di perjalanan pulang, kita disuguhkan pemandangan yang sangat indah oleh Darajat. Kabut yang menyelimuti, dataran yang hijau, dan angin yang sejuk (cenderung dingin) membuat aku tersenyum.
Lalu kita pergi ke rumah Laras yang tepatnya berada di pusat Kota Garut. Kesan pertama saat masuk rumah Laras adalah nyaman. Bukan karena rumahnya (memang sih rumahnya bagus dan nyaman banget) tapi lebih karena suasana dan penyambutan keluarganya. Disana ada Ibu nya Laras yang menyambut kita dengan hangat dan penuh kasih sayang. Di dinding kulihat ada foto-foto keluarga, utuh. Ruang tamu, ruang televisi, dapur, kamar mandi, musholla, balkon, dan hal lainnya yang menunjukkan bahwa mereka adalah keluarga normal yang bahagia.

Hal yang tiba-tiba terlintas di pikiranku adalah keluargaku. Dan sungguh pikiran tersebut menyayat hati. Entah mengapa. Aku rasa aku merindukannya. Oh sepertinya bukan, menginginkan tepatnya. Karena kau tak akan merindukan apa yang tak pernah kau miliki, bukan? Begitu pula denganku. Aku tak pernah memilikinya, maka dari itu aku menginginkannya, bukan merindukannya.

Di rumah Laras kita makan makanan yang sudah disiapkan Ibu nya Laras. Setelah itu sekitar pukul 20:00 kita pamit untuk kembali ke Bandung.

Laju ban mobil, suara tawa teman-teman, serta terpaan angin malam itu menemaniku melanjutkan perjalanan rasa. Sampailah kita di Bandung sekitar pukul 22:00. Tapi aku sampai di kosan sekitar pukul 23:00 karena kita minum susu murni dulu di Dipati Ukur.

Kamis, 03 April 2014. Aku belajar tentang kehilangan sekaligus keutuhan. Tentang bagaimana seharusnya kita menjaga yang masih utuh, dan mengikhlaskan yang telah hilang. Hari itu juga aku merasa takut kehilangan sekaligus menginginkan keutuhan. 

Kamis, 03 April 2014, aku melakukan perjalan rasa yang tak akan mudah aku lupakan.


Geby Bayuningtyas
Bandung, 03 April 2014

Kamis, 03 April 2014

Untuk seseorang yang baru saja ditinggalkan

Kehilangan, patah hati, kesedihan, tak pernah bosan menghampiri kita.
Inilah hidup. Kita harus berlapang dada menerimanya, mau tak mau.
Memang tak mudah mengetahui orang yang selama ini ada, tiba-tiba harus pergi dan tak kembali.

Aku tahu bagaimana sakitnya ketika orang yang kau cintai dan mencintaimu seakan menghilang begitu saja.
Aku tahu bagaimana rasanya ketika kau merasa seolah ada bagian dari dirimu yang terpisah dan kau tak bisa lagi menemukannya.
Aku tahu bagaimana sesaknya ketika kau bangun di pagi hari dan merasa berbeda.
When the tears come streaming down your face
When you lose something you can't replace
When you love someone but it goes to waste
Could it be worse?
Namun, itulah suratan, teman.
Sungguh kita tak akan pernah bisa mencegah Yang Maha Kuasa untuk menundanya, apalagi membatalkannya.
Suratan tetaplah suratan. Tak akan ada bayaran setimpal yang mampu mencegah semuanya.

Segala yang datang dari Tuhan, pada akhirnya akan kembali ke Tuhan.
Kata mereka segala sesuatu akan kembali ke pemiliknya pada waktu yang tepat.
Begitupun dengan ini, yakinlah bahwa ini adalah waktu yang tepat.
High up above or down below
When you're too in love to let it go
But if you never try you'll never know
Just what you're worth
Yang harus kau lakukan saat ini adalah berlapang dada, karena kau berhak atas kedamaian.
Berdoa, karena itulah satu-satunya hal yang dapat seorang anak lakukan untuk membantunya.
Dan lanjutkan hidup, karena tak ada gunanya berlarut dalam kesedihan.

Buktikanlah bahwa kau kuat.
Buktikan pada dunia bahwa kau mampu menghadapinya.
Buktikan bahwa beliau, malaikatmu, tak pernah gagal mendidik anak laki-laki satu-satunya yang selalu beliau banggakan.

Bumi akan terus berputar. Waktu akan terus berjalan. Tak peduli apa yang kau sesalkan.
Jadikan kesuksesan sebagai bayaran atas segala kesedihan.

Untuk seorang kuat yang baru saja ditinggal malaikat penjaganya

Tetaplah berjalan seperti biasanya,
karena ada senyum yang harus tetap tersungging,
ada hidup yang harus tetap dijalani,
ada tawa yang harus tetap kau bagi,
dan ada banyak harapan yang Ibu dan adikmu titipkan pada kuatnya pundakmu.
Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you
― Fix You- Coldplay
Keep smile my dearest friend, Irpan Nugraha!
"Tersenyumlah... Allah mencintaimu lebih dari yang kamu perlu”
― Tasaro G.K.

You don't know how lovely your smile








Salam dari Mumu :D










Bandung, 03 April 2014. 00:42
Geby Bayuningtyas
Teman yang akan selalu ada, walaupun tak selalu terlihat.



Senin, 20 Januari 2014

Menemukanmu


From Google

Huaaaaaa.. Akhirnya setelah sekian lama pergi, kembali juga ke blog ini. Blog yang dibuat masa SMA. Blog yang dibuat karena ikut-ikutan dan ingin belajar. Akhirnya... :D

Sebenernya sejak beberapa bulan yang lalu keingetan blog ini dan mencoba nyari, tapi malah lupa alamatnya. Mungkin karena udah move on ke tumblr jadi aja blog ini dilupain begitu aja. Gatau kenapa hari ini tiba-tiba inget aja alamat blog ini, dan alhasil munculah blog yang sudah tak terurus dua tahun lamanya.

Akhirnya aku menemukanmu.. Mulai sekarang bakalan sering-sering nulis disini. Soalnya kalo curhat nulis di tumblr nanti banyak yang liat hehe kan kalo di blog ini followersnya sedikit.

Oke, now I'm ready to share everything with you, blog. Brace yourself. ;)