Halaman

Minggu, 25 Maret 2012

Antara pemerintah, oposisi dan media massa

Dari judulnya terlihat bahwa posting ini akan benar-benar membahas tentang politik. Tapi tidak, posting ini tidak akan terlalu membahas politik. Ini hanyalah merupakan kesimpulan yang saya dapatkan dari obrolan ringan tadi siang bersama teman-teman saya Ade, Nisa, Amel, Hanifah, Mochi, Laras, Riska, Tesa. Obrolan tentang sesuatu yang sekarang ini sedang sangat booming, kalo di twitter namanya TT (Trending Topic). Ya, kenaikan harga BBM.

Rasanya kita terlalu awam untuk membahas ini ya. Kita yang hanya seorang pelajar SMA kelas XII yang rata-rata tidak normal (red: dibawah umur kelas XII lainnya) sudah sok-sokan membahas urusan yang bahkan orang-orang dewasa pun kadang-kadang kurang mengerti. Tapi disini kita mencoba berpendapat dan melihat dari beberapa pandangan. Sekali lagi bukan membahas.

Seperti yang kita lihat sekarang, kenaikan harga BBM menimbulkan pihak yang pro dan kontra. Disisi pro mereka mendukung karena mungkin mereka mengetahui tujuan dan memaklumi kebijakan pemerintah tersebut. Tapi disisi lain, golongan kontra pun tak henti-hentinya menentang dan mencekal kenaikan harga BBM tesebut. Akibatnya terjadi demo dimana-mana dan banyak sekali masyarakat yang menuntut SBY turun. Tapi ko lebih banyak yang kontra ya? haha



Mungkin ada beberapa faktor yang menjadikan banyaknya pihak kontra diantaranya, yang pertama adalah ketidaktahuan masyarakat terhadap tujuan pemerintah dalam menaikan harga BBM tesebut. Pemerintah juga kan ga mungkin asal-asalan dalam mengambil keputusan. Kebijakan ini pasti sudah dipikirkan matang-matang oleh pemerintah. Mana ada pemerintah yang ingin menjadikan negaranya hancur.

Yang kedua (menurut saya) ialah faktor oposisi. Ya menurut saya mungkin pihak oposisi yang mengompori rakyat untuk memprotes kebijakan pemerintah itu. Seperti yang saya lihat (maaf) dipinggir-pinggir jalan raya yang sering saya lewati banyak spanduk-spanduk yang bertuliskan ‘partai anu sangat menolak sekali kenaikan harga BBM’ bukankah itu termasuk mengompori?

Faktor yang terakhir (menurut saya lagi) adalah media massa yang terlalu mendramatisir. Seperti yang kita ketahui, media massa akan melakukan apa saja agar berita yang mereka beritakan dapat menjadi trending topic. Mungkin saja sekarang media massa terlalu mendramatisir tentang kenaikan harga BBM ini sehingga masyarakat mudah terpengaruh oleh berita-berita yang lebay agak berlebihan. Jadi yang dibutuhkan sekarang ini adalah kode etik pers yang harus benar-benar ditaati dan dilaksanakan.

Jadi, kalau kita tidak mengerti tujuan dan tidak tahu asal-usulnya jangan langsung nge-judge. Siapa tahu aja ada niat baik dibalik itu semua. Kalau usul jangan asal, kalau asal jangan usul. Oke sekian posting sok-sokan saya, semoga dapat mebuka pikiran tapi tidak menjadikan su’udzhan.

2 komentar: